#11 Review Novel: 36 Questions that Changed My Mind About You

Hellooooo everyone! Balik lagi di blog Suka Suka Alfar! Hihi.

Hari ini sudah puasa ke-20 Ramadhan, lho! Meski sebentar lagi akan ditinggalkan oleh Bulan Ramadhan, ayoo semangat puasa dan lakukan dengan sangat baik! Jangan patah semangat yaaa!

Hari ini juga sedikit spesial untukku karena aku akan bertemu dengan teman-teman SMA. Dan bukan hanya itu, kami akan melakukan bakti sosial di salah satu panti asuhan di kota Makassar, juga akan bertemu, berbincang, dan menantikan waktu buka puasa bersama. Semoga akan menyenangkan (:

Selain itu, hari ini juga aku akan update sebanyak dua kaliii! Hihi. Aku begitu bersemangat, juga dikarenakan tulisanku masih tertinggal banyak dari target. So, mulai hari ini aku akan sedikit ‘balap’ untuk mencapai target. Hihi.

Oke! Kemarin setelah mengulas Film Aladdin (yang bisa kamu baca disini), aku akhirnya kepikiran untuk bisa menghabiskan satu buku. Dan aku akhirnya menjatuhkan pilihan pada salah satu karya Vicki Grant yang aku miliki, yang aku beli sekitar dua bulan lalu. Benar, aku baru membacanya.

Then, let’s start this review!


-----------------------------

Judul: 36 Questions that Changed My Mind About You

Penulis: Vicki Grant

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: 2018

Tebal halaman: 368 halaman


Karya Vicki Grant ini bermula dari hasil penelitian Dr. Arthur Aron pada tahun 1997 mengenai The Experimental Generation of Interpersonal Closeness. Yang pada akhirnya dirangkumlah sebuah gagasan ‘bisakah cinta direkayasa dengan 36 pertanyaan?’.

Novel ini menceritakan tentang seorang doktor psikolog salah satu universitas yang sedang melakukan penelitian ‘memfasilitasi’ kedekatan interpersonal antara dua orang yang tidak saling kenal. Akibat penyebaran selebaran eksperimen sang doktor, akhirnya dua orang dengan kepribadian yang sangat bertolak belakang mendaftarkan diri mereka masing-masing dengan tujuan berbeda.

Hilda—yang lebih senang dipanggil Hildy, mendaftarkan dirinya dengan tujuan ingin berinteraksi dengan orang lain, ingin melawan kecemasannya dan mengambil resiko, yang dianggapnya jika ‘tidak mengambil resiko tidak ada hasil’. Berbeda dengan orang yang akan dipasangkan dengannya, Paul mendaftar hanya karena tertarik pada jumlah bayaran yang akan diberikan setelah mengikuti eksperimen.

Berbeda dengan review novel sebelumnya, aku akan membagi dua poin yaitu kelebihan dan kelemahan novel ini. Yaitu yang pertama;


Kelebihan

Aku suka mengetahui fakta bagaimana novel ini bisa tercipta, berdasarkan penelitian nyata yang kemudian menjadi sumber inspirasi sebuah novel. Konsepnya pun berbeda dengan novel kebanyakan yang ada dipasaran. Idenya masih fresh dan begitu nyata untuk kisah kehidupan pribadi.

Cara Paul dan Hildy berinteraksi. Tak ada ragu sama sekali dalam menjawab daftar pertanyaan. Meski tidak saling mengenal dan baru bertemu kala eksperimen, kejujuran sering kali terjadi ketika menceritakan setiap kejadian yang berkaitan dengan pertanyaan. Kejujuran pada orang asing ini tentu bermakna, apalagi hanya untuk sebuah eksperimen. Aku juga suka bagaimana percakapan mereka membuatku terpana hingga jatuh hati, huehehe.

Banyak hal juga nilai yang bisa diambil dalam buku ini, salah satunya betapa pentingnya menjaga kepercayaan dan tidak mengecewakan orang yang disayangi. Hal lainnya adalah, pentingnya tepat waktu atau on time. Bagaimana kita bisa melewatkan serta kehilangan sesuatu yang paling berharga jika kita tidak tepat waktu. Nilai kekeluargaan serta persahabatan dalam novel ini pun sangat kuat, bisa dilihat dari bagaimana Hildy berusaha mempertahankan keluarganya yang berada diambang kehancuran, dimana sahabatnya selalu setia berada disisinya.

Sampul! Jika kamu telah membaca review novel di blog ini sebelumnya, kamu pasti sudah tahu bahwa sampul menjadi poin pertama penilaianku untuk membeli sebuah buku. Aku suka dengan sampulnya tentu saja, bahkan aku akan member nilai 4,6/5! Hihi. Aku suka perpaduan warnanya yang sangat cantik dan tidak menor. Sederhana namun tentram ketika dipandang. Untuk bookmark-nya biasa saja, sama seperti novel-novel lainnya. Meskipun begitu, ini juga menjadi nilai plus karena biasanya beberapa novel tidak memiliki bookmark.


Kelemahan

Seperti yang kamu duga, novel yang diterjemahkan oleh Jimmy Simanungkalit ini sama seperti novel terjemahan lainnya, dimana sering kali kita kesulitan memahami padanan kata dan juga kalimatnya—kecuali kita sudah sering dan terbiasa membaca novel jenis ini. Benar, saat membaca novel ini, beberapa kali aku harus mengulang untuk mengerti apa yang dimaksudkan. Penggunaan kata-kata yang tidak biasa atau jarang dipakai di novel-novel lainnya yang ada di novel ini juga sering kali membuatku terkendala.

Penggambaran suasana. Ini mungkin yang paling urgent menurutku dan menjadi tolak ukur paling penting. Berbeda dengan novel terjemahan lainnya yang memiliki begitu banyak narasi hingga dialog antar tokohnya hanya sedikit, novel ini malah kebalikannya. Penggambaran suasananya amat kurang ketika Hildy dan Paul sedang berinteraksi atau saling menjawab pertanyaan, lebih mirip naskah drama atau naskah film. Benar-benar harus menaruh fokus yang lebih ketika mereka sedang berinteraksi.

Misalnya, penggambaran salah satu tokohnya tertawa, tidak akan tertulis “Paul tertawa mengejek melihat ekspresi Hildy yang berlebihan”, tapi penggambarannya langsung terjadi dalam dialog seperti; “Hildy: jangan menertawaiku, kau tidak tahu betapa menyebalkannya tawamu.” dimana sebelumnya tidak ada notice bahwa Paul sedang tertawa.

Sisi humor. Beberapa kali aku sering kesulitan memahami humor atau lelucon yang mereka lontarkan. Entah memang karena selera humor penulis yang terlalu tinggi atau humorku yang terlalu rendah untuk memahami.

-------------------

Dua orang asing. Dua remaja dengan kepribadian yang jauh berbeda. Paul yang berpikir eksperimen 36 pertanyaan ini akan selesai dalam kurang lebih sepuluh menit, malah menghabiskan waktu berhari-hari dan ia menjalani hari yang berbeda dari biasanya.

Saat mereka berdua menyelesaikan eksperimen tersebut, ada banyak masa lalu yang terungkap, kejujuran, kebohongan, tawa, tangisan, melempar barang, kemarahan, kabur, menghilang hingga kembali. 

Apakah akhirnya mereka akan jatuh cinta?

Overall, aku suka novel ini. Alasan utama membeli novel ini saat pertama kali melihatnya adalah; nama pemerannya. Dan ternyata tidak salah untuk jatuh hati pada novel ini, lumayan jauh dari ekspetasi ‘novel terjemahan yang membosankan’. Hehe.

Recommended untuk dibacaa!

Rate: 4,1/5!

--------------------
Sampai nanti ditulisan berikutnya! Terima kasih sudah membaca dan juga jangan bosan-bosan berkunjung! (:

#SetiapHariBerkarya




Warm Regards,


Alfardwi.

Komentar