#3 Review Novel: Saddha - Syahid Muhammad



Welcome back to my blog!

Hari ini cuaca sangat cerah, membuat banyak orang lebih ingin menetap dalam ruangan yang memiliki pendingin dibanding harus berlalu-lalang di luar ruangan. Ya, termasuk aku sendiri. Dan kali ini, aku akan me-review sebuah buku yang saat ini sudah hampir selesai ku baca, sekaligus buku dimana hanya dengan membaca kata pengantarnya saja sudah ku nyatakan buku ini benar-benar membuatku jatuh cinta dan aku harus memiliki seluruh seri bukunya.

Se-spesial apakah buku ini? Yuk, simak!

-----------

Judul: Saddha
Penulis: Syahid Muhammad
Penerbit: Gradien Mediatama
Tahun terbit: 2019
Tebal halaman: 272 halaman

Buku ini adalah buku kelima karya seorang Syahid Muhammad. Sebelum buku ini, ada juga empat buku lainnya yang tak kalah kerennya, seperti Paradigma, Egosentris, dan dua karya lainnya hasil berkolaborasi dengan Stefani Bella/Hujan Mimpi berjudul Amor Fati dan Kala. Dan yang akan debut dalam waktu dekat ini pun berkolaborasi lagi bersama Stefani Bella dengan judul 25 Jam! So excited! Can’t wait!!

Syahid Muhammad yang lebih akrab disapa Mas Iid ini, menerbitkan buku Saddha pada Februari 2019. Aku membeli buku ini bersamaan dengan novel Pergilah Pulang, tepatnya 09 April, dan aku membacanya dengan amat menghayati alias satu-dua lembar per hari.

Alasan pertama tertarik untuk memiliki buku ini adalah; sampul! Aku tipikal orang yang lumayan selektif melihat sampul untuk membeli sebuah buku. Aku selalu percaya bahwa melihat isi buku yang bagus dan keren pun harus dinilai dari sampulnya. Seluruh buku Mas Iid yang dikemas dominan berwarna hitam legam diikuti artwork cover menarik yang menyimpan banyak makna dibaliknya, sederhana namun mewah, adalah tipe sampul buku yang aku banget! Dan diulasan sebelumnya (baca: Review Novel: Pergilah Pulang) aku sudah menyebutkan bahwa nilai plus dari sebuah novel untukku adalah pembatas/bookmark-nya. Dan artwork cover inilah yang menjadi bookmark, tipekal novel yang sangat berbeda dari biasanya.

Yang kedua, sinopsis! Sinopsis bukunya sama sekali tidak bertele-tele ataupun tidak terlalu menggambarkan isi buku. Cukup dengan kalimat; ‘istirahatlah luka-luka. Terima, dan berhenti berusaha melupakan’, sudah mampu membuatku semakin penasaran. Lalu bagaimana dengan cerita yang katanya jatuh cinta setelah membaca kata pengantar? Jadi sebelum membeli, aku mencari buku yang sudah terbuka lalu membacanya dengan hati-hati dan khidmat. Aku bergedik sambil terus membaca kalimat demi kalimat. Untaian kata yang menggambarkan kisah cinta sederhana, namun disampaikan dengan diksi-diksi yang sangat indah.

Buku ini umumnya menceritakan sosok ‘aku’ yang terbelenggu dalam luka dan kenangan, masih belum sanggup melupakan si ‘dia’ yang sebentar lagi akan mengikat janji sakral dengan pria lain. Untuk kedua kalinya, aku me-review sebuah novel bersudut pandang laki-laki. Sosok ‘aku’ yang masih terperangkap dalam masa lalu menggambarkan perasaannya di setiap halaman dengan begitu detail, dengan kata yang cukup mudah dipahami, menarik kita pula untuk ikut merasakan apa yang dirasakan sosok ‘aku’. Sungguh, aku selalu merasa tertampar saat membaca setiap tulisan di buku ini, halaman demi halaman.

Bisa dilihat pada prolog, asal mula mengapa semua tulisan ini terbentuk. Dari judul prolognya saja; cerita tentang kita yang berharap benar, berikut dengan percakapan antara si ‘aku’ dan ‘dia’ yang menggetarkan dan menyayat hati bagi yang membaca. Mungkin kamu yang sedang patah hati akan menangis jika membaca buku ini. Gadeng wqwq.

Aku merekomendasikan untuk membaca buku ini, apalagi kalian yang menyukai dunia kesastraan. Karena secara keseluruhan, cerita yang ingin disampaikan dari sudut pandang seorang pria yang sedang patah hati, cukup detail digambarkannya dan benar-benar tersampaikan. Ini juga salah satu buku yang unik dan punya gaya buku yang cukup berbeda dari yang lainnya.

Rate: 8/10!
-----------------

Kita mengajarkan satu sama lain perihal merindu, bahwa jika ada nada yang paling indah selain petikan dawai dari seseorang kasmaran, yaitu lantunan doa dari setiap puncak kerinduan. (:

-----------------
Warm Regards,


Alfardwi

Komentar